Widayanti Rose

Lahir dan tinggal di Sumenep, saat ini menjadi guru aktif di sebuah SD. Menulis baginya sebuah hobbi yang membawa manfaat. Tulis apapun yang berguna. Karena den...

Selengkapnya
Emak, Ai lop yu

Emak, Ai lop yu

Trus trus ... gimana, Mak?” tanyaku penasaran mendengar cerita Emak tentang masa kecilku.

“Kamu itu dulu lahir selisih satu bulan sama Pak Mol. Anaknya pak kebun itu. Aku masih sempat berkunjung saat hamil 8 bulan.”

“Tapi kok di tanggal lahirku ijazah lebih tua aku, Mak?”

Emak diam saja. Kulihat kesedihan di wajahnya. Ya Tuhan. Pertanyaan yang tidak seharusnya aku lontarkan pada Emak. Perempuan yang di kakinya adalah surgaku ini tidak tahu tentang kalender masehi. Tapi dia mengingat pasti kapan aku dilahirkan dengan bulan Madura, Begitulah Emak menyebut kalender Hijriyah.

“Kamu itu lahir bulan Maulid. Saat itu aku baru datang dari pasar, Pasar sidorame. Emak lagi kula’an banyak waktu itu.”

“Emak masih kula’an saat itu? Berapa bulan?”

“Ya Sembilan lah, kamu lahirnya sembilan bulan. Kalau Yu Hajahmu itu tujuh bulan.”

Aku masih menyimak cerita masa kecilku sambil membersihkan sayur komak yang kami petik di kebun.

Tak bisa kubayangkan, dalam keadaan hamil 9 bulan, Emak masih ke pasar untuk mengisi dagangannya di toko. Sama sih, aku juga saat hamil sembilan bulan masih keliling Madura. Tapi bedanya, aku diantar mobil. Sampai rumah pukul sembilan malam, dan paginya langsung lahir. Hihi

Kalau saat ini mungkin ada aku yang selalu mengantar Emak, naik motor ke sana- ke mari. Tapi kalau dulu Emak sendirian saja, Eppak merantau ke kota. Saat itu masih jarang ada motor. Adanya sepeda saja, itu pun Emak tidak bisa.

Emak ke pasar dengan berjalan kaki, di atas kepalanya ada sebuah palasa berisi bahan dagangan.

“Datang dari pasar, aku sakit perut. Tak lama kemudian kamu lahir.” Emak tertawa, merasa ada yang lucu dari kisahnya. Padahal bagiku itu bukan sebuah lelucon, itu sebuah perjuangan besar seorang ibu. Di saat hamil tua, Emak masih bekerja keras.

Ya, Emak memang pekerja keras. Dia tidak pernah bermalas-malasan. Walau semua kebutuhan keluarga dipenuhi, tapi Emak tidak mau berdiam diri di rumah. Dia mengerjakan semua tugas rumah sendiri, ditambah lagi berdagang dan bertani. Kadang dulu aku bingung saat ditanya pekerjaan ibuku apa? Emak sebagai ibu rumah tangga, berdagang dengan membuka toko kecil di rumah, bertani saat musim kemarau dan beternak kambing juga. Repot kan ngisinya di raport. Hee

Yang paling aku ingat adalah masakan Emak yang bagiku tak ada duanya di restoran manapun. Karena itulah, walau sudah menikah dan punya anak dua, aku tetap sedapur dengan Emak. Tetap gak bisa lepas dari masakan Emak yang sekali memberi garam saja sudah pas di lidah. Sepertinya ada indra ke enam di jari Emak, Indra pengecap. Setiap kali Emak memintaku mencicipi masakannya, pasti jawabanku sama.

“Emm … enak dah, Mak. Enak banget.”

Emak pasti tertawa mendengar jawabanku, “Kamu memang gitu, tak ada masakanku yang gak enak, mesti bilang enak terus.” jawabnya ngakak.

Padahal aku bukan berbohong untuk menghibur Emak. Masakan ibu memang selalu enak kunikmati. Bahkan walau hanya sambal cabe dan garam, rasanya mesti beda kalau tangan Emakku yang menguleknya. Bukan hanya menurutku, kakak iparku juga mesti protes jika makan rujak yang sambalnya bukan dari Emak.

“Ini pasti bukan Emak yang ngulek, ganti sambal dong. Saya maunya sambal bikinan Emak.” Itu kata abang iparku pada istrinya, satu-satunya saudara kandungku. Nah kan, berarti tangan Emak memang penuh dengan bumbu.

Pernah suatu ketika aku belajar masak. Semua bumbu Emak yang menakar di ulekan. Aku mencatatnya dalam sebuah kertas, lalu mengulek bumbu takaran Emak. Hasilnya gimana? Luar biasa aneh! Jauh berbeda dari yang biasa Emak bikin, padahal bumbu sudah tangannya yang nakar, yang ngupas bawang dan kunyit, dan mencucinya sampai bersih. Semuanya Emak yang lakukan, aku hanya kebagian tugas menghaluskan dengan ulekan, menggoreng dan mencampurkan pada masakan. Tapi tetap tak senikmat masakan asli Emak. Hiks.

Karena itu, urusan bumbu sering aku serahkan pada Emak. Aku hanya kebagian ngupas bahan dan mencucinya saja. Dan yang pasti kebagian makan. Haha

“Dah selesai, Mak. Tinggal masak ini.” kataku meminta sayur yang sudah bersih di tangan Emak.

“Biar aku yang masak.” pinta Emak.

“Gak usah, Mak. Aku aja. Aku sudah bisa kok. Kan udah ngapalin bumbu dari Emak.” kataku dengan senyum.

Aku bukan gak mau Emak masak, tapi aku tau pasti kakinya tak setangguh saat dulu melahirkanku. Kaki yang bertahun-tahun melangkah bekerja membantu Eppak, kaki yang mengirimku saat di pondok, menemaniku selama 2 tahun berdinas di pulau, menjaga Bintang saat sudah kusapih, bahkan kaki yang setia menemani Bintang ke sekolah, ditambah kini merawat Bilqies, adik Bintang. Walau tidak mampu lagi menggendongnya. Kaki yang luar biasa menaiki tangga ke lantai lima saat aku Wisuda.

“Aku ke dapur dulu ya, Mak.”

Aku bergegas menuju dapur. Sayur ini harus sudah masak sebelum ayah datang. Kita bisa menikmatinya bersama saat makan siang.

Emak mengangguk.

Tak lama setelah aku mulai memantik api kompor, terdengar suara benda keras membentur pintu, bersamaan dengan seru Emak yang tertahan. Kumatikan kompor dan berlari ke arah suara.

Kulihat Emak berdiri menyandar di pintu. Sepertinya dia hampir terjatuh saat mencoba berdiri.

“Mak…! Emak mau kemana? Aku bilang duduk saja. Apa yang sakit, Mak?” tanyaku dengan rasa panik yang kusembunyikan.

“Aku mau ke dapur bantuin kamu.” jawabnya dengan senyum yang dipaksakan. Air matanya meleleh dari kedua netranya yang segera dia hapus. Aku tahu, Emak tidak mau terlihat rapuh di depanku.

Aku berusaha menahan perasaan agar juga tak terlihat cengeng di depan Emak. Emak pasti sedih jika melihatku nangis.

“Maafkan aku ya, Emakmu kini sudah tak bisa diandalkan.” Suara Emak berat.

“Siapa bilang Emak gak bisa diandalkan, Emak itu perempuan paling hebat di dunia.” jawabku mencoba mencairkan perasaannya.

“Aku menjadi seperti ini berkat Emak.” imbuhku menuntunnya duduk.

Emak menolak, dia tidak mau duduk di kursi teras. Dia berjalan tertatih menuju dapur. Pasti mau membantuku. Urusan kerja dan membantu anaknya, Emak memang keras kepala.

Aku tak bisa memaksanya lagi untuk diam, dia akan sedih bahkan tersinggung jika diminta duduk. Kubiarkan saja dia melakukan apa yang dia bisa, karena dengan begitu dia lebih bahagia. Dia senang bisa membantu anaknya.

“Ya sudah, ini kalau maksa.” Kataku dengan menyodorkan pisau dan bawang untuk dibuang kulit luarnya.

Dia pun menerima dengan senyum. Senyum yang membuatku merasa sesak melihat Emak yang begitu bersemangat bekerja walau rasa sakit yang menimpanya.

“Mak, bumbunya marongghi apa dah, Mak?”

“Tuh kan lupa lagi kalau urusan bumbu.”

“Hihi ... iya Mak. Maaf.” jawabku cengengesan.

“Tapi pintar pegang pensil dan cari uang.” imbuh Emak lagi sambil tertawa.

“Iya dong, anaknya siapa dulu?” kataku sombong.

“Anaknya petani bodoh.”

“Bodoh aja anaknya begini, apalagi pintar ya ....” aku masih terus sombong untuk membesarkan hati Emak.

Haha alhamdulillah.” Emak ngakak.

Aku pun ikut ngakak. Lupa pada kejadian tadi, Emak hampir terjatuh saat hendak berdiri. Lupa bahwa perempuan yang duduk di depanku ini punya penyakit yang tidak pernah dia keluhkan di depan orang lain, terutama anak-anaknya. Karena saat bersama Emak, suara cetarnya selalu terdengar riang. Tak nampak kalau dia sedang aku rawat.

“Wid …” panggil Emak saat aku menidurkan putri bungsuku. “Bantu aku duduk di kursi.” pintanya saat aku sudah di depannya.

Aku heran, tidak biasanya Emak meminta bantuan. Dia pasti akan berusaha keras, bahkan menolak jika aku membopongnya. “Aku bisa kok.” begitu terus saat tanganku menjangkaunya.

Dan kini Emak memintaku.

“Ayo, Mak!” Kucoba rangkul tubuh Emak untuk membantunya berdiri. Tapi terasa sulit sekali. Emak seperti tidak punya tenaga sama sekali.

“Emak …!” isakku tertahan, kulihat airmata Emak mengalir deras, kuhapus segera. Tak ada yang bisa aku katakan, sesak menyeruak.

Emak tak mampu berdiri.

Aku berusaha mengangkatnya sekuat tenaga yang kupunya. Tak ada siapapun saat itu selain kami bertiga dengan bayi kecilku.

“Bismillah … “

Akhirnya aku berhasil membuat Emak duduk di kursi. Tangisnya makin pecah. Ini tangis ke dua yang pernah kuliat dari Emak. Pertama saat aku harus caesar pada kelahiran Bintang. Dan sekarang yang kedua. Emak sesenggukan dengan air mata yang mengalir deras.

Emak! Aku tak pernah ingin melihat air matamu. Ini pemandangan paling menyakitkan dalam hidupku, Mak. Kupeluk erat tubuhnya, dia menangis di dekapanku. Aku berusaha tegar walau dalam hati ada ladam yang menghantam.

Emak pasti sehat kembali.” Aku masih terus mendekapnya. ingin kukatakan betapa aku mencintainya dalam keadaan apapun, tapi kata-kata itu hanya tercekat di kerongkongan.

Saat mulai tenang, Emak memintaku kembali ke kamar, di mana Bilqies kutinggalkan dalam keadaan tidur. Aku segera mengikuti perintah Emak, bukan untuk menemui bayiku. Tapi menuju kamar mandi, meluapkan segala yang kutahan sedari tadi.

Kondisi Emak makin lemah. Tubuhnya semakin kurus. Berjalan dengan terseok dan sesekali hampir terjatuh. Tapi dia tak pernah menyerah, tiap pagi meniti dinding untuk berlatih berjalan. Tidak mau aku tuntun, benar-benar keras kepala. Apalagi ada tetangga lewat, dia sok sehat dan menyapa seperti Syahrini. Cetar membahana.

Tak ada yang tau Emak sedang sakit.

Itu cara Emak membohongi semua orang atas rasa sakitnya. Aku tau Emak sering menangis diam-diam meminta kesembuhan. Seperti aku yang selalu menumpahkan tangis tanpa sepengetahuan siapapun, saat perasaan takut kehilangan tiba-tiba sangat menyesakkan.

“Mak, bumbu sayur asem apa ya?” aku bertanya dari dapur yang bersebelahan dengan kamar Emak. Diapun akan menuntunku sampai proses masak selesai dari kamarnya. Walau kadang hasil akhir tetap jauh dari yang Emak ajarkan. Ah, aku memang payah urusan masak.

Pagi ini aku bertekat harus bisa memasak sendiri. Tapi tetap saja lupa bagaimana proses yang telah Emak ajarkan.

“Mak, cara rebus jantung pisang gimana dah?”

Tak ada sahutan. Aku mengintip dari jendela dapur di mana Emak biasanya menjawabku sambil memijit kaki.

“Mak…!” kataku lirih.

Ya Allah. Ini hari ke sepuluh kepergian Emak. Aku baru sadar jika di kamar itu tak lagi rebah perempuan yang paling kucintai. Perempuan yang dulu kakinya sekuat baja itu kini telah istirahat dengan tenang.

Dan itu kehilangan yang paling menyakitkan. Rasanya aku belum percaya. Tiba-tiba saja semua berubah. Kemarin aku masih teriak dari dapur, menanyakan bumbu yang harus aku pakai untuk masak sayur lodeh. Lalu dengan bangga membawa hasil masakanku ke kamar Emak.

Emak selalu antusias memuji keberhasilanku.

Kini aku hanya bisa menjerit dalam hati, memanggil nama Emak. Tak pernah lagi ada makanan nikmat, tak bisa lagi merasakan lezat. Emak telah pergi, membawa sepotong hati. Bukan hanya makanan yang terasa hambar, bahkan hatikupun ikut hampa.

Aku mencintaimu, Mak! Bahkan saat ragamu tak lagi dapat kusentuh.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mengharukan sekali. Thanks for this. Mator sakalangkong

08 Jan
Balas

Motor ka so'on.. Hihi

08 Jan

Bikin baper... .

08 Jan
Balas

Terima kasih atas hadirmu

08 Jan

Padahal lama kutunggu hadirmu...

08 Jan
Balas

Hihihi.... Dukamu=dukaku. Nggak tau harus komen apa... Kita sama.

08 Jan
Balas

Ya Say.. Bahkan penyakit Emak kita sama

08 Jan

Oke kita sering-sering pulang

08 Jan
Balas

Bu Wida harus bertanggung jawab karena bikin pembaca baper ikutan nangis.

08 Jan
Balas

Ini tisu pak...

09 Jan

Alhamdulillah bisa berbagi kisah inspiratif

08 Jan
Balas

Terima kasih cikgu

08 Jan

Penataan kallimat yang luar biasa, bikin air mata laki-lakiku keluar juga. Barakallah.

08 Jan
Balas

Terima kasih Pak, maaih belajar dan terus belajar. Salam kenal dan salam literasi

08 Jan
search