Widayanti Rose

Lahir dan tinggal di Sumenep, saat ini menjadi guru aktif di sebuah SD. Menulis baginya sebuah hobbi yang membawa manfaat. Tulis apapun yang berguna. Karena den...

Selengkapnya
Lelaki dan Kantong Ajaib

Lelaki dan Kantong Ajaib

Hor, begitu kami memanggilnya. Aku tidak tau pasti nama panjangnya siapa. Fathor, Syaihor, ataukah Salehor. Yang jelas, dia selalu terlihat dengan sebuah kantong besar. Di tangannya sebuah tongkat panjang, dengan paku bengkok di ujung. Mirip celurit, tapi ini sebuah paku.

Tidak setiap hari aku melihatnya, biasanya hari minggu dia lewat. Seperti biasa dia langsung memeriksa isi keranjang sampahku. Mencari sampah yang bisa dia jual. Botol, gelas atau kertas.

“Ini bisa dijual gak, Hor?” tanyaku memberikan beberapa botol bekas minyak sereh.

“Haha ...” dia malah ketawa.

“Lah, kenapa ketawa?”

“Ya siapa yang mau beli botol kecil-kecil begitu. Kalau botol kecap bisa, tapi murah. Paling satu botol hanya 200 rupiah.” Jawabnya dengan senyum menyeringai.

“Jadi kalau botol ini gak bisa? Ini botol obat dan minuman kratind*ng juga banyak.” Kataku menawarkan.

“Haha ...” dia ketawa lagi. Sepertinya tawa memang selalu menjadi jawaban setiap aku berkata.

“Kalau satu pick up sekalian mau.”

“Buat apa?”

“Buat fondasi rumah. Haha...” tuh kan, dia ketawa lagi.

Kuambilkan kardus bekas yang tak lagi kubutuhkan. Dia pun sigap memasukkannya ke dalam kantong ajaib yang dia bawa.

“Kenapa kamu gak jadi purmain saja?” tanyaku disela pekerjaannya memunguti sampah. (Purmain adalah sebutan pengemis di daerahku)

“Haha. Purmain? Naudzubillah. Biar aku cari rongsokan aja dari pada ngemis.” Jawabnya seraya berdiri bersiap pergi.

“Kan enak, tinggal jalan sepertimu lalu dapat uang. Gak perlu capek-capek bawa kantong begini.” aku sengaja memberi kalimat satir padanya. Padahal dalam hati aku kagum pada kegigihannya dalam bekerja.

“Purmain itu hanya malas bekerja. Aku kan rajin. Haha...” lagi-lagi jawabannya tak pernah lepas dari tawa.

“Bagus, kerja yang rajin ya ...”

“Aku kan sudah bekerja seperti orang kantoran. Kalau minggu aku ke desa kaduara, Senin aku ke Kertagena laok, Selasa ke Rombasan ...” aku terkesima. Dia pemulung yang pandai mengatur jadwal rupanya. Memilih menjadi pemulung, dari pada harus jadi pengemis.

“Trus kamu liburnya hari apa?”

“Ya gak ada, liburnya kalau hujan saja. Haha... nanti habis hujan berangkat kerja lagi.”

“Wah, hebat! Tunggu sebentar ya. Mau tak ambil kamera.” Kataku bergegas ke kamar.

“Eh, mau apa? Mau dimasukkan fesbuk ya? Haha.. “

“kamu tau fesbuk ta?”

”Ya tau lah hahaha ...”

Bergegas aku menyiapkan kamera untuk mengambil gambarnya. Dia pun bergaya dengan tawa khas yang tak pernah dia lepas.

“Kamu mau bilang apa? Awas loh...”

“Mau bilang kalau kamu lelaki hebat yang rajin bekerja.”

“Haha.. “ dia mah ketawa terus tanpa beban kayaknya.

“Ya dah sana berangkat.” Perintahku menyuruh dia melanjutkan pencarian.

Diapun pergi sambil teriak memanggil nama suamiku.

“Bangun Rus, tidur aja kamu ya?” teriaknya sambil melangkah ke arah barat.

“Woyy... apa Hor?” suamiku gak kalah teriak dari dalam kamar.

Sementara aku masih diam menatap kepergiannya sambil memikirkan untuk menulis kisahnya ini.

Sungguh aku salut. Ketika dia sudah ‘layak’ untuk mengemis, tapi dia memilih untuk menjadi pemulung rutin ke desa-desa tetangga.

Bukan hanya Hor, tapi juga penduduk di desaku. Mereka semua gigih bekerja, apapun mereka kerjakan yang penting halal. Walaupun secara statistik mereka berada dikategori masyarakat miskin, tapi pantang bagi mereka mengemis.

Pernah saat musim panen jagung, ada dua orang pengemis muda datang ke rumah, lalu ke sebelah rumah yang saat itu masih hidup janda tua. Dia hidup sebatang kara dengan pekerjaan sehari-hari hanya mengandalkan hasil panen jagungnya.

Saat itu aku sedang nenangga ke rumahnya. Miris sekali menyaksikan hal yang janggal ini. Dua orang perempuan muda datang mengulurkan tangan meminta pada nenek janda tua renta. Apa tidak terbalik? Dia nenek yang sangat layak untuk meminta, tapi memilih untuk tidak melakukannya. Walau tidak jarang saat menjelang lebaran, masyarakat berbondong-bondong menyerahkan zakat kepadanya.

Sementara dua perempuan muda ini? Kalau dilihat, usianya jauh lebih muda dari Emakku. Jalannya juga masih kuat. Pastilah bisa bekerja jika memang mau.

Tapi mereka memilih menjadi pengemis, lebih mudah mendapatkan uang. Hanya bermodal kekuatan mental saja, kuat menahan malu.

Nenek tua tetanggaku masih memberinya beberapa keping jagung yang saat itu dia jemur di samping rumah.

“Aku tidak punya uang. Ini beberapa bonggol jagung. Wajibnya sampean yang memberiku, kalian masih muda dan sehat. Harusnya bersyukur dengan bekerja keras.” Kata sang nenek yang menusuk relung hatiku.

Mereka mendengus kesal, menerima jagung seraya pergi dengan segera. Padahal bisanya rutinitas setelah mendapatkan uang ataupun hasil panen, mengalirlah doa-doa dari mulut mereka.

Terima kasih. Semoga berkah. Semoga diganti dengan yang lebih banyak. Semoga selalu semangat bekerja. Aku akan datang lagi minggu depan. Eh gak gitu ding.

Apa ada yang datang tiap minggu? Ada kok. Bahkan seminggu lebih dari sekali juga ada. Tetanggaku sempat juga mengeluh.

“Prei dulu Pak, pean rajin banget kesini. Baru dua hari yang lalu datang sudah datang lagi.” Kata tetanggaku yang membuat aku tertawa. Dipikir-pikir benar juga sih tetanggaku. Lah kok dia lebih rajin dari tukang kredit.

Apakah mengemis itu dilarang? Bukan. Agama memperbolehkan seseorang untuk mengemis dengan syarat tertentu. Tapi memang sering kali pengemis itu bukan soal kaya atau miskin. Melainkan soal mental yang malas untuk berusaha. Naudzubillah. Semoga kita dan keturunan kita dijauhkan dari mental malas ini. Aamiin.

Trus ponakan saya nanya,

“Kalau aku rajin bermalas-malasan, apa aku ini disebut orang yang rajin atau malas?”

“Ya malas, Mas. Malas pangkat lima itu.” Eh dia nyengir.

Aku masih duduk santai di teras rumah, saat tiba-tiba si Hor lewat lagi.

“Loh, kok cepet banget Hor? Sudah penuh ya?”

“Gak gitu, aku lupa kalau sekarang hari selasa.”

“Emang kenapa?”

“Kalau Selasa, harusnya aku ke Rombasan, bukan Kaduara.”

“Ha??” aku hanya bisa melongo.

Apa bedanya sih? La wong dah sama-sama nyari rongsokan gitu kok. Ada-ada saja.

Ya tapi namanya dia berpegang pada prinsip. Kalau dah jadwalnya desa Rombasan ya sudah, harus di sana. Seperti diriku, kalau dah cinta ya sudah cinta aja. Titik.

Ciaha!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

mantap

05 Feb
Balas

Nyeees

05 Feb

Terima kasih supportmu Bunda

05 Feb
Balas

Lelaki luar biasa, pekerja keras. Bun, kata hahaha... Ditulisnya tiga kali. Maaf. Sukses selalu dan barakallah

05 Feb
Balas

Terima kasih bunda

05 Feb

Horeee namanya kali

05 Feb
Balas

Heee

05 Feb

keren mbak tulisannya. Potret kehidupan yang bs dipakai bercermin

05 Feb
Balas

Makasih bunda..

05 Feb

Mantap hor.... semangat... terus berkarya.. Sukses selalu bunda

05 Feb
Balas

Sukses juga untukmu Bunda

05 Feb

Hor itu asli Medan, nama aslinya Horas....hihihihi.... Salam takzim

05 Feb
Balas

Horeeee.. wkwkwk

05 Feb
search