Widayanti Rose

Lahir dan tinggal di Sumenep, saat ini menjadi guru aktif di sebuah SD. Menulis baginya sebuah hobbi yang membawa manfaat. Tulis apapun yang berguna. Karena den...

Selengkapnya

Menjelajah Negeri Panda

Perjalanan ke China dilepas oleh panitia P4TK PKn dan IPS di pintu hotel Ibis Jakarta. Seperti melepas anak yang akan berangkat ke pesantren, mereka berdiri mematung sampai bus kami hilang dari pandangan.

Saya tahu pasti kegundahan panitia. Di satu sisi mereka bahagia dengan keberangkatan kami ke China, sebuah perjuangan luar biasa dari pihak P4TK dalam sebulan dalam mempersiapkan segala keperluan kami. Tapi di sisi lain mereka juga galau, karena dari predeparture yang dilaksanakan 3 hari sebelumnya, tak ada satu nara sumber dari Widya Iswara yang berpengalaman ke China. Informasi tentang China masih simpang-siur bagi kami.

Informasi awal sudah kami dapatkan dari sumber Google. Tetapi itu tidak seakurat yang pernah datang sendiri ke sana, sebagaimana yang pernah datang ke Australia. Mereka tahu pasti di mana akan tinggal, ruang belajar bahkan foto-foto berbagai tempat telah banyak diberikan sebagai gambaran.

Nah, yang ke China ini yang masih blank. Satu-satunya yang sedikit memberi pencerahan adalah pak Agus. Dia yang menepis dugaan bahwa kamar mandi di China tidak memakai pintu, sebagaimana yang selalu kita khawatirkan sebelumnya.

Satu dari beberapa kegalauan. Yang kedua soal suhu yang katanya lebih dingin dari kulkas, dan ketiga yang masih membuat kami puyeng tingkat provinsi adalah bahasa yang digunakan saat pelaksaan adalah mandarin. Hallo hallo! How can I understand their speaking?.

Ah sudahlah, itu urusan gampang saat nanti di China. Toh saya tidak sendiri. Banyak teman yang menemani. Kalau puyeng dengan bahasa mereka, ya puyeng lame-lame lah. Hayya.. Ciaha!

Kami start di bandara internasional Soekarno Hatta. Tour guide kami memberi petunjuk umum bagaimana yang harus kami lakukan saat ke China.

“China itu negara maju, tapi masih banyak yang mencopet di bandara. Hati-hati dengan barang bawaan. Terutama paspor. Karena jika hilang, mengurusnya lama. Anda bisa tertahan gak bisa pulang.” Itu pesan Pak Oki sebelum kami masuk.

“Jaga paspor baik-baik, karena itu nyawa kita selama di sana.” Pesan ketua kelas, “Jangan percaya pada orang asing, jaga nama baik negara kita ..” banyak lagi pesan yang dia sampaikan saat kami sudah mulai bersiap masuk imigrasi bandara.

Pengurusan imigrasi bandara mudah saja kami lewati. Semua berjalan mudah dan cepat sesuai dengan aturan. Kami menunggu waktu 00.10 untuk masuk pesawat Cattay Pacific menuju Hongkong. Dengan estimasi waktu sampai sekitar 4 jam.

Tidak seperti biasanya, saya tidak bisa lelap di perjalanan. Sehingga waktu terasa begitu lama di pesawat. Perasaan berduka atas kepergian kepala sekolah dan istrinya dalam kecelakaan tadi pagi membuat saya shock, tidak bisa fokus. Tapi saya berusaha untuk bisa konsentrasi, sepanjang perjalanan saya berdoa untuk mereka. Semoga husnul khatimah. Aamiin.. (mohon diaminkan ya)

Tiba di Hongkong pukul 06.00 waktu Hongkong. Atau sama dengan waktu Indonesia Timur. Jadi saya hanya mempercepat arloji satu jam. Penerbangan berikutnya 1 jam 30 menit. Tapi tak ada waktu untuk bersantai. Kami harus berlari menuju Gate selanjutnya ke tujuan penerbangan Bandara Shanghai.

“Di sini ontime, gak ada panggilan berkali-kali seperti Indonesia. Jika jadwal boarding 7.30 semua sudah harus masuk pada jam itu. Kalau gak, ya ditinggal”.

Kami pun melalui proses imigrasi. Sidik jari dilakukan untuk bisa melewati polisi. Alhamdulillah saya selesai sangat cepat. Tour guide nanya, apa pernah ke Luar Negeri sebelumnya. Kok prosesnya cepat banget? Saya jawab,

“Pernah ke Belgia dan Perancis. He he.”

“Wau ....”

“No no no! I mean, Belgia is Blega and Perancis is Perancak. Nama daerah di sekitar saya.”

Dia ngakak tanpa guling-guling.

Saya masih berbaris menunggu teman-teman yang lain. Eh ternyata teman sekamar saya malah gak bisa dikenali sidik jarinya. Mungkin karena dingin, kulitnya jadi mengerut kali ya. Wkwkwk

Mulai panik dia. Tapi alhamdulillah masih bisa dibantu oleh petugas. Lalu kami dipersilakan ke proses scan wajah dan sidik jari lagi. Uh! Panjang banget jalan menuju sana. Bener kata tour guide, sejam setengah itu sebentar di bandara.

Scan wajah semua lancar. Ada sih teman GTK yang lama sekali saat scan wajah. Karena saat foto di paspor dia masih pakai berewok. Tapi saat berangkat, sudah dicukur semuanya sampai plontos dengan rambut. Nah tuh, ini pelajaran ya buat yang mau perjalanan ke luar negeri. Kalau mau ganti muka, eh ganti penampilan nanti saja setelah pulang. Pastikan foto saat di paspor gak jauh-jauh amat dengan aslinya.

Meluncurlah kami menuju gate selanjutnya dengan langkah super cepat ala orang China. Berlari dengan menahan rasa ingin pipis. Karena dari tadi, belum boleh masuk toilet sebelum semua selesai. Barulah setelah sampai di di area dekat pintu gate, kami diijinkaan untuk ke toilet. Uh leganya!

“Ingat, jangan basah-basah di restroom. Kalau becek-becek di lantai, kita bisa disanksi.” Kata guide mengingatkan kami.

Nah di sini mulai bingung gimana caranya wudu. Toiletnya kering gak pakai kran. Satu-satunya yang bisa digunakan wudu ya di wastafel.

“Trus basuh kakinya gimana?” bu Ninuk teman saya dari DKI Jakarta mulai bingung.

“Kita bisa usap kaki atau usap sepatu. Tuhan memberikan banyak kemudahan untuk kita.” Bu Tri yang pernah ke jepang ini memberi petunjuk cara wudu dengan membasuh sepatu. Kami pun segera menuju tumpukan ransel bersiap untuk salat subuh.

“Mana musalanya Pak?” tanya pak Subiyantoro pada tour guide.

“Lah, mana ada musala di sini? Tahu sendiri kan kalau penduduk muslimnya sedikit. Musala dari Hongkong?”

“Emang Hongkong kok, Pak.”

“Haha..” kami jadi tertawa sendiri

“Lah terus kita salat di mana?”

Sejenak teman mulai berpikir. Lalu memutuskan salat begitu saja di dekat tumpukan tas. Gak usah tanya di mana arah kiblat. La wong musala aja gak ada kok. Ini bukan Indonesia Sodara. Kalau di sana, Musala itu banyak banget. Bersyukurlah kita jadi muslim di Indonesia.

Jadilah kami menggelar sejadah di pinggiran gate. Mereka banyak ngelihatin kita. Udah satu rombongan bawa ransel, trus gelar sejadah untuk salat subuh berjemaah pula dekat gate. Ah peduli amat apa kata mereka. Untungnya sih tidak dicegah polisi.

Ya salam, susahnya nyari tempat ibadah di negeri orang. Tapi pesan temanku, salatlah di mana pun dan sejahat apa pun dirimu. Nah tu!

Perjalanan berikutnya dilanjutkan terbang ke Shanghai. Dari Hongkong butuh waktu sekitar 1,5 jam. Sebentar aja bila dibandingkan Jakarta Hongkong. Tapi turbulensinya terasa kenceng banget.

Mungkin memang perbedaan cuaca yang kabarnya mencapai 0 derajat di China. Suhu ekstrem ini menjadikan bentuk dan tekstur awan jadi berbeda. Jadi pas di atas pesawat, awannya seperti atap, seperti pegunungan berwarna putih. Ia menutup semua lapisan, gak terlihat apapun di bawah seperti saat terbang di Indonesia. Bisa kebayang saat baru take off dan hendak landing. Uh lala.. komat kamit baca doa pemirsa.

Slamet slameet...!

Stressing dengan turbulensi, saya akhirnya bisa lega saat pesawat mendarat dengan selamat. Alhamdulillah...

Akhirnya menginjakkan kaki pertama kali di bandara Shanghai yang langsung disambut dengan suhu kulkas. Persis deh saat buka pintu freezer. Nyesss!

Ya Tuhan! Sedingin ini ternyata. Padahal ini baru musim semi pemirsa. Semua kulitku langsung terasa mengerut seketika. Hidungku apalagi. Eh Bukan ding! Itu memang dari aslinya. Mancung yang tertunda. Hihi. Pokoknya jangan bilang pesek, tapi non mancung. OK?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ok..bun. Terasa ikut ke Tiongkok.

06 Mar
Balas

terima kasih pak

06 Apr

Kereen Bund...deskriptif banget, rasanya saya seperti ikut berpetualang ..semoga sukses dan lancar ya Bund..ditunggu oleh-oleh selanjutnya..Barakallah

06 Mar
Balas

aamiin.. terimakasih bunda

06 Apr

Selalu super keren Bunda

24 Mar
Balas

terima kasih bunda

06 Apr
search