Widayanti Rose

Lahir dan tinggal di Sumenep, saat ini menjadi guru aktif di sebuah SD. Menulis baginya sebuah hobbi yang membawa manfaat. Tulis apapun yang berguna. Karena den...

Selengkapnya
Pendekatan STEM Ala Kuli

Pendekatan STEM Ala Kuli

Saya mendapatkan pemandangan menarik saat berada dekat kuli di toko bangunan sore tadi. Bukan pada tampangnya yang masih muda tetapi pada benda yang ada di bahu kanannya ini.

Apakah benda itu?

Sebuah rangkaian benda yang diikat dengan tali ke bahu kirinya. Saya mengamati dengan seksama bahan apa saja yang digunakan, ada busa kasur tebal, bungkus oli dan tali terbuat dari potongan ban.

Saya penasaran apa sebenarnya kegunaan benda unik tersebut. Sesaat kemudian, datang sebuah truk mengangkut balok kayu. Mereka berdua dengan sigap berada di bawah mobil. Ternyata itu alat sebagai alas memikul balok kayu ini.

Busa berfungsi agar terasa lembut di bahu walau pasti bebannya berat banget, sedangkan dirigen oli berfungsi agar kayu mudah saat akan diletakkan karena gesekan yang ditimbulkan sangat kecil.

Alat sederhana yang dibuat dengan bahan bekas ini adalah salah satu contoh penerapan STEM di kehidupan masyarakat. Dalam pembuatannya mereka tentu berangkat dari permasalahan setelah berkali-kali mendapat masalah dalam membawa beban kayu saat bongkar muatan.

Mulailah mereka mencurahkan segala pikiran untuk menemukan cara atau alat apakah yang akan dibuat untuk mengatasi masalah ini. Konsep dan hukum alam dihubungkan untuk mendapatkan solusi terbaik. Proses inilah yang dikenal dengan science. Proses pengolahan pikiran terhadap sesuatu hal berdasarkan masalah yang akan dicari solusinya. Dari proses inilah mereka menemukan cara harus ada alat khusus yang diletakkan di bahu agar beban tidak menyakitkan.

Penemuan alat ini ditujukan untuk mempermudah atau membuat ringan pekerja dalam mengangkut balok kayu. Semua alat yang berfungsi membantu pekerjaan manusia sehingga menjadi mudah inilah yang disebut teknologi. Secara umum pengertian teknologi adalah keterampilan atau sebuah sistem dalam masyarakat yang berfungsi sebagai pengatur, organisasi, pengetahuan dan desain alat dengan tujuan memudahkan pekerjaan. Jadi prinsip yang dilakukan kuli bangunan pada buatannya ini sudah masuk kategori Technologi.

Tahap berikutnya adalah memilih dan merancang bahan yang akan dibuat sebagai alat bantu. Tentunya dipertimbangkan semua aspek dari bentuk, bahan dan cara pembuatannya. Mereka mulai mengumpulkan bahan yang tepat dan Dalam hal ini mereka sebenarnya sudah termasuk seorang engineer atau perancang. Kenapa harus berbentuk segi empat, kenapa dari busa, kenapa harus diikat, semuanya termasuk dalam kemampuan seorang engineer.

Di tahap akhir, mereka mulai mengeksekusi hasil olah pikirnya dengan membuat alat ini dengan prinsip efektif dan efisien. Prinsip inilah yang membuat mereka menggunakan hitungan matematis dalam pembuatannya. Terutama dalam hitungan ukuran yang pas untuk busa, dirigen ataupun talu yang akan digunakan.

Semua proses yang dilalui akan diakhiri dengan eksekusi pemakaian. Apakah alat yang sudah dirancang dan dibuat ini benar-benar bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang sedang mereka selesaikan? Apakah perlu penambahan alat lain untuk menyempurnakan? Bisakah dibagikan kepada orang lain untuk bisa membantu juga?

Pendekatan dengan menghubungkan berbagai keterampilan inilah yang disebut dengan STEM, singkatan dari Science, Technology, Engineering and Matematic.

Dalam pembelajaran kita diharapkan mampu menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan dan keterampilan secara bersamaan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Pfeiffer, Ignatov dan Polman (2013) bahwa dalam pembelajaran STEM pengetahuan dan keterampilan digunakan secara bersamaan.

Kemampuan metakognitif atau menciptakan sesuatu pada siswa dibangun dengan merangkai 4 aspek inter disiplin dalam STEM. Dengan pemamfaatan berbagai pengetahun ini diharapkan mampu menghadirkan siswa yang memiliki mental pencipta sesuatu, bukan hanya pada taraf menikmati sesuatu.

Pembelajaran STEM ini cocok diterapkan di SMP dan SMA dengan subjek pengetahuan yang lebih kompleks. Tetapi tidak menutup kemungkinan, SD kelas tinggi bahkan kelas awal pun dapat menerapkannya. Walaupun tidak murni STEM setidaknya mulai membekali mental siswa untuk bisa menghasilkan sesuatu atau kreatif dalam menghadapi tantangan abad 21 dan industri 4.0.

Didiklah siswa dengan pekerti dan kemampuan untuk masa depannya, bukan hanya terpaku pada zona nyaman ajaran masa lalu. Mereka bukanlah hidup di zaman kita, bukan pula untuk masa lalu, melainkan menjadi pejuang masa depan. Siapkanlah mental siswa untuk generasi gemilang.

Bismillah berkah.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

2 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

search