Widayanti Rose

Lahir dan tinggal di Sumenep, saat ini menjadi guru aktif di sebuah SD. Menulis baginya sebuah hobbi yang membawa manfaat. Tulis apapun yang berguna. Karena den...

Selengkapnya
Wawancara dengan Penulis Cilik

Wawancara dengan Penulis Cilik "Siti dan Peri Gigi"

Sore ini saya menemani penulis cilik “Siti dan Peri Gigi” yang wawancara khusus dengan wartawan radar Madura di sekretariat rumah literasi.

Seperti halnya saat diwawancara on air di Pro 1 RRI kemarin, saya masih khawatir anak-anak saya menjadi malu untuk bicara.

“Nanti gak usah malu ya, kalau ditanya jawab aja dengan percaya diri. Kayak di sekolah itu.” Kata saya sebelum wartawan datang.

“Ya, Cha. Gak perlu malu, anggap saja di sekolah bareng Bu ida.” Kata Bunda Acha memberi support.

Keduanya hanya tersenyum.

Beberapa saat orang yang ditunggupun datang, beliau pertama menanyakan beberapa hal pada saya selaku pembimbing dua anak hebat ini. Lalu dilanjutkan dengan Acha.

“Duduk di sini.” Pinta wartawan yang menggeser kursi kecil di pojok ruangan.

Acha pindah duduk dengan senyum malu-malu. Duh, anak ini bisa keluar suara gak ya..

“Siapa namanya?”pertanyaan pertama dari wartawan.

“Acha.” Yes, dia bersuara dengan tegas.

“Gimana perasaan Acha setelah menerbitkan buku Siti dan peri gigi ini?”

“Seneng.”

“Kesan bunda?”

”Seneng juga.”

“Berapa kali dalam seminggu biasanya menulis?”

“Satu kali” jawaban yang selalu simple.

“Di mana menulisnya?”

“Di sekolah, kadang di rumah."

“Kalau di rumah, kapan biasanya nulis?”

Acha diam, sepertinya kurang paham maksud pertanyaannya.

“Sore, abis maghrib atau isya?” wartawan memberi petunjuk.

“Malam”

Aku menghela napas, ikut lega. Saya ikutan tegang di setiap dia akan bicara.

“Nah, bagus begitu. Kemarin di RRI masih malu-malu. Uh, gemes.” Kata bu Liliek gregetan.

“Kenapa Acha bisa tertarik untuk bisa menulis?” pertanyaan berikutnya yang membuat Acha senyum tak langsung menjawab.

Duh, semoga dia gak malu lagi.

“Awalnya saya liat bu Ida nulis cerita di hapenya, terus saja tanya, lagi apa, Bu? Nulis cerita. Akhirnya saya juga mau nilis cerita.”jawabnya dengan cadel khas Acha.

Wow, ternyata begitu alasan Acha nulis ya. Jadi para guru yang ingin muridnya bisa seperti Acha, nulis dulu. Nanti merekapun tertarik untuk menulis juga. Eh, ngomong-ngomong yang bernama bu Ida itu yang mana? Wkwkwkwkkwk

Next to Yasmin

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

search